Ahok Dimata Warga Kawanua, Rengkuan : Sosok Fenomenal!

Manadozone || Jakarta – Jelang kebebasan Basuki Tjahaja Purnama (BTP), setelah menjalani masa hukuman akibat tudingan penistaan agama, pria yang akrab disapa Ahok, menjadi inspirasi bagi kalangan masyarakat.

Setidak dengan terbitnya sebuah buku berjudul “Tjahaja Seorang Basuki” karya Rudi Tamrin akan di-launching dan dibedah pada Rabu (23/01/2019) di Gedung Serbaguna Taman Kemayoran Condominium.

“Kegiatan dengan tema ‘Saatnya Bersinar Lagi’ menghadirkan KH Nuril Arifin (tokoh masyarakat), Karyono Wibowo (pengamat politik), DR. Amirullah Tahir SH, MM (Advokat Senior), Aven Jaman (peneliti LPI), Tirtayasa (Aktivis 98), Sasongko Iswandaru (Penerbit).

Kegiatan serupa juga dibuat Selasa (22/01/2019) di Yogyakarta.

Buku ini ternyata menarik minat beberapa tokoh muda Kawanua di Jakarta. Salah satunya Stevanus Stefi Rengkuan.

“Ahok itu sungguh fenomenal. Mewarnai DKI Jakarta sebegitu tebal dan terang. Beliau bukan hanya seorang pekerja gigih gang disiplin waktu. Kepintaran dia sangat nampak dalam perencanaan, kerja-kerja nyata, dan evaluasi-evaluasi dalam rapat maupun lapangan, termasuk dalam adu argumen kuat dengan nyali yang tinggi. Tapi juga beliau sungguh tulus dan baik hati. Sesungguhnya beliau telah meninggalkan legacy bagaimana memimpin dan mengadministrasi pemerintahan demi ketertiban dan kesejahteraan pelayan dan masyarakat. Sayang hanya kata-katanya yang kadang keras itu yang diingat dan dibesar-besarkan orang yang sudah tak suka padanya,” ujar pria yang juga Wakil Bendahara Perhimpunan Intelektual Kawanua Global (PIKG) ini.

Baca juga:   Dandim 1302/Minahasa Dampingi Danrem 131/Santiago dan Pangdam XIII/Merdeka Mendapat Anugrah Kehormatan di HUT Minahasa

Lebih jauh Stefi, menyebutkan bahwa Max F Wilar, sesepuh Kawanua Jakarta, juga tertarik membahas buku ini.

Begitu pula Johny Wenas Polii SE, MA (Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta, dua periode sejak Basuki Tjahaya Purnama diduetkan dengan Joko Widodo. Johny memimpin fraksi terbesar di DPRD waktu itu juga tertarik.

Berikut resensi Stevanus Stefi Rengkuan tokoh muda yang memimpin Kawanua Katolik Se-Jabodetabek

“Tjahaja Seorang Basuki”

Refleksi atas Politik Bersih Transparan dan Peduli

Ketika Ahok Djarot kalah dalam pilkada DKI 2017 yang lalu sesungguhnya bukan mereka kehilangan kekuasaan, tapi Jakarta baru saja membuang mutiara berkilau. Namun demikian, banyak hal bisa dicatat selama 2017 ketika Ahok dan Djarot berjibaku untuk DKI yang ceria dan berwarna.

Sekurang-kurangnya ada tiga momen penting, menurut penulis buku ini, mengapa tahun 2017 menjadi begitu penting untuk dikenang. Tiga momen bersejarah ini juga memberikan fondasi kuat yang ikut menentukan arah Indonesia ke depannya.

Baca juga:   Soal Virus Corona, Disdik Bolmut Akui Ada Edaran Kemendikbud, Namun Belum Terapkan Libur Sekolah

Pertama, momen Ahok bersama Jokowi dan Djarot melayani rakyat dengan hati penuh belas kasih. Mereka sungguh-sungguh pemimpin yang melayani dengan hati. Program kerja dijalankan dengan perhitungan matang dan cerdas serta berpihak pada rakyat kecil. Balai Kota menjadi saksi betapa Ahok mencintai warganya. Ia mendengarkan keluhan warga dengan seksama. Bukan hanya penuh kasih, Ahok menjadi seorang administrator keadilan yang pandai bagi warga Jakarta kebanyakan.

Kedua, momen saat ia menyerahkan jabatannya kepada lawan secara legawa setelah kalah dalam ‘Perang Badar’ (istilah dari lawan politiknya). Momen ini sangat menyesakkan dada bagi banyak pendukung Ahok. Seolah tak percaya, Ahok dijungkalkan dalam sebuah pertarungan yang liar tak terkendali. Mengandalkan isu agama dan suku, lawan politik Ahok terus merangsek dan menekan secara membabi buta. Pertarungan dua ronde ini meninggalkan banyak cerita kegetiran tentang pilkada yang kotor. Yang tersisa kini adalah permusuhan dua kubu yang terus digoreng hingga gosong. Singkatnya Ahok kalah.

Baca juga:   Walikota Eman Sebagai Pencatat Sipil Bagi 2 pasangan di Wale Kabasaran Tomohon

Ketiga, momen pendewasaan dirinya dalam jeruji besi Mako Brimob Depok, termasuk ketika ia harus menuntaskan persoalan rumah tangganya. Sementara lawan politiknya masih belum puas dan berusaha terus meniadakan Ahok. Tekanan itu justru berbalik seolah Ahok memainkan jurus Taichi di penjara. Ini adalah momen di mana Ahok masuk lebih dalam pada keheningan batinnya dalam sebuah retret panjang. Di Penjara ia merenung dan menulis. Sementara di luar penjara kita mulai melihat kebenaran perlahan tapi pasti menyibakkan dirinya sendiri tanpa diperintah. Satu persatu penentang Ahok berguguran, tidak sedikit menyesal.

Nah, ketiga momen ini dibingkai oleh sang penulis dengan kreatif dan tajam bermakna menjadi sebuah refleksi atas Politik Bersih, Transparan dan Peduli dari seorang Ahok. Refleksi ini menjadi relevan ketika kebohongan begitu merasuki perpolitikan tanah air kita saat-saat. Cukup DKI menjadi korbannya. Jangan lagi Indonesia.

Lebih dari sekedar refleksi, buku ini juga jadi undangan untuk Anda agar berani memberi warna pada kehidupan di sekitar kita supaya warna yang sudah ditorehkan Basuki tetap bercahaya indah.(Jimmy Endey)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *