by

Melestarikan Budaya, Benny Mamoto Kembali Gelar Festival Watu Pinawetengan Untuk Kesekian Kalinya

Manadozone || Tompaso – Festival Watu Pinawetengan kembali di gelar Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara pimpinan Irjen Pol (Purn) Dr Benny Jozua Mamoto di Pa’Dior Tompaso Minahasa Sabtu (7/7/2018). Kegiatan yang telah dilaksanakan setiap tanggal 7 Juli sejak 2007 silam hingga kini untuk mengenang sejarah dan budaya Sulawesi Utara.

Watu Pinawetengan (yang berarti Batu Tempat Pembagian) yang berada di Desa Pinabetengan Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara. Ditempat inilah, sekitar 1000 SM terjadi pembagian sembilan sub etnis Minahasa yang meliputi suku Tontembuan, Tombulu, Tonsea, Tolowur, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, Bantik dan Siao. Selain membagi wilayah, para tetua suku-suku tersebut juga menjadikan tempat ini untuk berunding mengenai semua masalah yang dihadapi.

Baca juga:   Polres Minsel Bekuk Pengedar Sabu di Poigar
Irjen Pol (Purn) Dr Benny J Mamoto (Pakaian Adat Minahasa) Bersama Istri Iyarita Mawardi

Goresan-goresan di batu tersebut membentuk berbagai motif dan dipercayai sebagai hasil perundingan suku-suku itu. Motifnya ada yang berbentuk gambar manusia, gambar seperti alat kemaluan laki-laki dan perempuan, motif daun dan kumpulan garis yang tak beraturan tanpa makna.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, bentuk batu ini seperti orang bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, bentuk batu ini juga seperti peta pulau Minahasa. Batu ini menurut para arkeolog, dipakai oleh nenek moyang orang Minahasa untuk berunding. Maka tak heran, namanya menjadi Watu Pinawetengan yang artinya Batu Tempat Pembagian.

Tarian Kabasaran

 

Batu ini bisa dikatakan tonggak berdirinya subetnis yang ada di Minahasa dan menurut kepercayaan penduduk berada di tengah-tengah pulau Minahasa. Bahkan beberapa orang yang rutin mengunjungi Watu Pinawetengan, ada ritual khusus yang diadakan tiap 3 Januari untuk melakukan ziarah. Sementara itu, karena nilai sejarah dan budaya yang kental, tiap tanggal 7 Juli dijadikan tempat pertunjukan seni dan budaya di Minahasa, sayangnya pemerintah daerah sejak dulu kurang perhatian sehingga Yayasan Institut Seni Budaya Sulut yang dimotori Benny Mamoto mengambil alih peran kepedulian terhadap budaya Sulut.”Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?,” tukas Benny Mamoto. Kegiatan yang dilakukan suami Iyarita Mawardi ini selama lebih dari 10 tahun bukan untuk kepentingan politik namun semat-mata hanya demi kecintaan akan budaya Minahasa. Bahkan pasangan suami istri Benny dan Iyarita juga menciptakan karya seni kain Pinawetengan yang terkenal hingga mancanegara.

Baca juga:   Pemilihan Kepala Desa di Bolmong Segera Masuk dalam Tahapan

Watu Pinawetengan sebenarnya adalah simbol demokrasi sejati. Peristiwa demokrasi yang terjadi di Watu Pinawetengan bukan seperti teori demokrasi modern yang kita pelajari di sekolah dan di perguruan tinggi. Demokrasi Pinawetengan adalah sebuah tanda bahwa bangsa Minahasa menjunjung tinggi hak asasi manusia.

 

Para Undangan Bersama Irjen Pol (Purn) Dr Benny Jozua Mamoto

 

Keunikan demokrasi Pinawetengan adalah tatacara musyawarah, proses pengambilan keputusan, dan proses eksekusi keputusan yang sudah diambil. Tatacara musawarah Pinawetengan sangat unik dan mungkin hanya dilakukan oleh bangsa Minahasa pada zaman itu. Berikut ini urutan proses musyawarah Pinawetengan yang dirangkum dari berbagai sumber dengan menggunakan metode tradisional Minahasa, yaitu menanyakan langsung kepada para leluhur (pelaku sejarah) dengan mediasi para Tonaas.

Baca juga:   Olly Dondokambey Disambut Ribuan Kader, Teriakan Lanjutkan Menggema di Doloduo

Penulis : Jimmy Endey

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed